http://www.investor.co.id

Ruhari, Jadikanlah Hidup Ini Seperti Air Mengalir
Senin, 12 Desember 2011 | 12:45

Jadikanlah hidup ini seperti air mengalir. Ikuti alurnya, jangan neko-neko, dan berjalanlah apa adanya. Filosofi ini tak hanya diterapkan Ruhari dalam kehidupan pribadinya, tapi juga dalam bekerja dan mengelola perusahaan. 

Kesederhanaan dan kesahajaan terpancar jelas dari sikap dan tutur katanya. Ruhari, direktur utama PT Asuransi Staco Mandiri, memang bukan tipe pemimpin perusahaan yang jaim alias jaga imej. Ia tampil apa adanya, tidak macammacam, dan tak pernah menjaga jarak dengan siapa pun, termasuk dengan para bawahannya.

“Untuk apa neko-neko? Hidup itu sakmadyo saja, apa adanya, seperti air mengalir,” ujar Ruhari kepada wartawati Investor Daily Gita Rossiana dan pewarta foto David Gita Roza di ruang kerjanya, kawasan Cikini, Jakarta, baru-baru ini.

Meski menganut filosofi “air mengalir”, bukan berarti pria kelahiran Solo, 1 Januari 1954 ini bisa “menabrak” apa saja. Ia justru sangat memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam pekerjaannya. “Ikuti alurnya, namun tetap pegang teguh prinsip. Jangan tergoda hal-hal yang tidak semestinya,” tegas ayah tiga anak ini.

Yang pasti, Ruhari adalah tipe pekerja keras. Bagi dia, semangat juang dan disiplin yang tinggi mutlak diperlukan dalam mencapai keberhasilan. Dan, satu hal yang tidak pernah diabaikannya adalah konsistensi. “Apa yang diucapkan, itu yang dilakukan. Walau dalam tekanan yang sulit, kita tetap harus konsisten,” tandas Ruhari.

Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

Bisakah Anda cerita perjalanan karier hingga posisi saat ini?
Pada 1982, saya masuk Bank Dagang Negara (BDN). Saya bekerja di BDN sampai 1999. Saya tetap bekerja setelah BDN dilebur ke PT Bank Mandiri Tbk. Saya di Bank Mandiri sampai 2008. Kemudian saya ditugaskan Bank Mandiri untuk menangani Asuransi Staco Mandiri yang merupakan anak usaha Bank Mandiri, persisnya saya ditugaskan di Asuransi Staco Mandiri mulai 28 November 2008. Jadi, sudah tiga tahun saya berada di perusahaan ini.

Apa alasan Anda terjun ke industri asuransi?
Selama 28 tahun bekerja di Bank Mandiri, 14 tahun di antaranya saya menggeluti bidang kredit. Kredit adalah bisnis yang mengandung risiko. Risikonya macam-macam, seperti utang yang tidak terbayar. Asuransi juga sama, bisnis yang berkaitan dengan risiko, karena asuransi adalah bisnis yang menjamin suatu risiko. Setiap segmen bisnis pasti ada risikonya.

Di sektor properti, misalnya, ada risiko kebakaran. Di sektor lain seperti transportasi ada risiko perampokan atau kecelakaan di jalan. Prinsip di bank dan asuransi sama, yaitu mengelola suatu risiko. Dan, itu penuh tantangan. Bagi saya, di situlah menariknya.

Latar belakang pendidikan saya kebetulan keuangan, sehingga saya tidak kesulitan menekuni bidang asuransi. Apalagi saat bekerja di Bank Mandiri, saya juga mengikuti pendidikan manajemen risiko. Karena berada di bidang risk management, saya dianggap sangat pas menangani bidang asuransi. Jadi, tinggal mengembangkan bidang perasuransian.

Positioning Asuransi Staco Mandiri ada di mana?
Asuransi Staco Mandiri adalah industri asuransi umum. Pemegang saham mayoritas Asuransi Staco Mandiri adalah Dana Pensiun Bank Mandiri II yang didirikan Bank Mandiri. Persentase kepemilikan sahamnya 62%. Jadi, Asuransi Staco Mandiri yang berdiri sejak 1990, adalah perusahaan afiliasi Bank Mandiri.

Dulu, Asuransi Staco berada di bawah BDN. Kami memang masih kecil, namun kami terus tumbuh, dan pertumbuhan kami cukup signifikan. Tahun depan, kami menargetkan pendapatan premi sekitar Rp 98,4 miliar atau tumbuh 15-20% dibandingkan target tahun ini Rp 82 miliar. Realisasi pendapatan premi hingga Oktober 2011 mencapai Rp 71,96 miliar. Hingga Oktober, perolehan laba perseroan mencapai Rp 5,34 miliar. Sampai akhir tahun ini, kami menargetkan laba Rp 6 miliar dan tahun depan naik menjadi Rp 7 miliar.

Pada 2009 dan 2010, kami memperoleh predikat yang sangat bagus dari majalah Infobank. Kami masuk kategori perusahaan asuransi yang memiliki premi Rp 50-200 miliar. Pada 2010, kami berada pada urutan ke-7 dari 33 perusahaan. Pada 2009, kami berada pada urutan ke-11. Tahun ini, kami targetkan naik lagi pada urutan ke-5.

Asuransi Staco cepat berkembang karena mendapat “fasilitas” dan perlakuan “khusus” dari Bank Mandiri?
Tidak juga. Perlakuan Bank Mandiri terhadap semua perusahaan sama, baik perusahaan terafiliasi maupun perusahaan tidak terafiliasi. Kami menjunjung tinggi profesionalisme. Kami harus bekerja secara profesional seperti perusahaan asuransi lain. Yang terpenting bagi kami sebagai perusahaan asuransi adalah komitmen yang tinggi terhadap nasabah, apalagi saat terjadi klaim.

Gaya kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan di perusahaan?
Saya menerapkan prinsip manajemen terbuka. Saya tidak mengambil jarak dengan para karyawan di segala level. Saya cukup dekat dengan mereka. Saya tahu keluarga mereka, kebiasaan-kebiasaan mereka. Karyawan merupakan aset yang sangat penting bagi perusahaan. Tanpa karyawan, perusahaan tidak dapat berkembang dengan baik. Mereka harus satu visi dengan perusahaan. Saya mengajak mereka ikut memiliki perusahaan.

Perusahaan ini adalah tempat mencari nafkah, tempat menghidupi keluarga. Jadi, perusahaan ini harus dijaga dan dikembangkan dengan baik. Bila tuntutannya adalah kenaikan gaji, bagaimana mungkin gaji naik bila perusahaan ini tidak berkembang? Kalau perusahaan tidak berkembang, tentunya kami tidak bisa memenuhi tuntutan karyawan.

Prinsip yang Anda terapkan berhasil?
Sekarang jauh lebih baik. Saya menerapkan prinsip-prinsip reward and punishment. Artinya, jika ada karyawan yang bagus, kami beri penghargaan. Sebaliknya, karyawan yang melanggar diberi hukuman sesuai tingkat kesalahannya. Bisnis asuransi ini kan rawan, karena berkaitan langsung dengan uang, premi. Setiap saat ada dorongan untuk tidak menyetorkan premi.

Saya tekankan kepada karyawan bahwa semua mesti taat peraturan, baik peraturan di dalam perusahaan maupun peraturan yang berlaku di Indonesia. Industri asuransi kan peraturannya merujuk peraturan yang dibuat Kementerian Keuangan. Kami juga harus menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG). Prinsip ini harus dipatuhi, dipenuhi, dan diikuti, supaya perusahaan kami tidak keluar jalur.

Anda melihat klien seperti apa?
Saya bekerja di Bank Mandiri dan BDN selama 28 tahun, dan 14 tahun di antaranya saya menangani kredit. Saat itulah saya sering bertemu nasabah. Saya tekankan kepada karyawan bahwa ketika menghadapi nasabah, mereka harus luwes. Kami harus mendengarkan keluhan mereka, supaya bisa mencarikan solusi yang terbaik dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang diterapkan perusahaan.

Strategi yang Anda terapkan untuk memacu kinerja perusahaan?
Untuk mencapai target tahun ini, kami akan mengembangkan bisnis ritel. Mengapa ritel? Karena bisnis korporasi risikonya sangat tinggi. Ibarat ingin menempatkan dana Rp 10 miliar. Kalau dana tersebut kami letakkan pada satu nasabah, kalau macet maka akan hilang 100%. Kalau kami tempatkan pada dua perusahaan, kalau salah satu perusahaan mati, dananya hilang 50%.

Namun, jika kami sebar kepada 100 orang, kalau macet 10 orang, masih ada 90% lagi. Tingkat risiko bisnis korporasi sangat tinggi. Di korporasi, kami juga harus meminta back-up reasuransi. Karena modal kami terbatas dan risikonya sangat tinggi, tentunya risiko tersebut harus dialihkan atau dilimpahkan kepada perusahaan reasuransi. Makanya, kami juga harus membayar premi reasuransi, sehingga pendapatan premi netto kami cenderung kecil. Tapi kalau kami bermain di sektor ritel, pendapatan premi bisa masuk perusahaan semua. Risikonya pun lebih kecil.

Obsesi apa yang belum Anda capai?
Di perusahaan, saya ingin Asuransi Staco menjadi perusahaan yang besar. Memang kendalanya di permodalan. Pada 2009-2010, kami sudah disuntik Dana Pensiun Bank Mandiri II. Kami harapkan penambahan modal berikutnya oleh Tugu Pratama Indonesia selaku pemegang 7% saham Staco.

Secara pribadi, saya bekerja tidak terlepas dari dukungan keluarga, terutama anak. Mereka menjadi inspirator saat saya merasa lemah. Mereka memberikan semangat untuk bangkit. Tentunya saya bekerja dibatasi waktu. Pada masa tua, saya ingin hidup sehat dan sejahtera. Saya sudah 57 tahun.

Banyak yang sudah berumur 70 tahun masih bekerja. Misalnya komisaris utama kami sudah berusia 70 tahun, namun masih bersemangat. Dalam jangka panjang, saya ingin Asuransi Staco menjadi perusahaan kelas atas yang memiliki premi di atas Rp 200 miliar. Mudah-mudahan pada 2014 tercapai.

Kunci sukses Anda dalam bekerja?
Tentunya kerja keras. Dalam bekerja, kita harus punya semangat juang dan disiplin yang tinggi. Kita juga harus tetap konsisten. Apa yang diucapkan, itu yang dilakukan. Walau dalam tekanan yang sulit, kita tetap harus konsisten.

Filosofi hidup Anda?
Filosofi hidup saya Sakmadyo, artinya apa adanya, tidak neko-neko. Hidup itu seperti air mengalir saja. Ikuti alurnya, namun tetap memegang teguh prinsip. Saya upayakan tetap bersemangat, namun tidak tergoda pada hal-hal yang tidak semestinya, misalnya korupsi atau tidak menghalalkan semua cara. Harus lebih banyak memberi daripada menerima. (*)

Baca original source: http://www.investor.co.id/wawancara/ruhari-jadikanlah-hidup-ini-seperti-air-mengalir/26104